#MARSIGIT- Marsigitism Filosofi 2019 - Wiwin Mistiani
#Marsigit Kuliah Filsafat Penelitian & Evaluasi Pendidikan - Dosen Penampu : Prof.Dr. Marsigit, MA
marsigit
Rabu, 15 Januari 2020
Minggu, 12 Januari 2020
REVIEW PERKULIAHAN PROF. DR. MARSIGIT. MA. FILSAFAT PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
TUGAS
AKHIR MATA KULIAH
REVIEW PERKULIAHAN PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
Dosen Pengampu
Mata Kuliah :Prof. Dr. Marsigit, MA
Wiwin Mistiani
Perkuliahan Filsafat Penelitian dan Evaluasi
Pendidikan Adalah salah satu mata kuliah wajid di perkuliahan S3 PEP. Mata
Kuliah filsafat yang di bawakan oleh Prof. Dr.Marsigit MA Sangat Unik, Baik dari Segi Penyampaian maupun Isi materi yang disampaikan. Mungkin banyak diantara kita sampai hari ini masih berfikir bahwa belajar filsafat dapat menjadikan kita jauh dari agama. Namun ternyata setelah mengikuti perkuliahan filsafat yang beliau bawakan, saya mengatakan bahwa dengan belajar filsafat sangat membantu saya dan kita semua dalam memahami agama yang kita yakini. Dari
beberapa hal yang di sampaikan oleh Prof. Dr. Marsigit. MA Saya Rangkum
dalam Blog ini agar kita dapat belajar bersama.
Dimulai dari Perjalanan Filsafat.
Obyek Filsafat adalah yang ada dan mungkin
ada. Yang ada dan mungkin ada itu
sifatnya tetap Tokonya adalah Permenindes Yang berubah itu tokohnya
Heraclitos. Yang tetap itu yang ada
dalam pikiran yang disebut dengan idealisme dan tokohnya adalah Plato, rasionalism
tokohnya adalah R Descartes. Sebaliknya
yang berubah itu adalah di luar pikiran
(realism)kita dan tokonya adalah Aritoteles. Empirism tokohnya David Home.
Sementara Imanuel Kant menyatakan ada dan mungkin ad aitu bisa tetap dan
bisa berubah (rasionalis Empiris). yang
cenderung tetap itu adalah pikiran kita,
karena itu pikiran itu cenderung
konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum Identitas; jika
derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai
kebenarannya dan nilai Identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa Tuhan).
Jika ditarik kebawah, dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu
dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Menurut Immanuel Kant,
langit itu konsisten (para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap mahasiswa,
dll, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradiksi,
sebenar benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah Tuhan. Semakin
turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam
predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori menurut Immanuel Kant.
Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat sintetik a
priori. Contoh seni hanya untuk seni tidak untuk masyarakat maka itu
hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah Metode saintifik, mencoba itu
Sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.
Filsafat adalah kesadaran akan kedudukan dan implikasinya terhadap
ruang & waktu dan Menggunakan Bahasa analog (Rumah kita semua ada di
bahasa) dan Filsafat itu adalah dirimu
sendiri. ketikan aku berdoa, maka aku
adalah seorang
spiritualis, tetapi, begitu ada orang yang berbuat aniaya, saya
bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic,
pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut
sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf,
ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu
sendiri maka sah-sah saja jika orang
mengemukaan pendapatnya atau
berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya
adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat
kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual.
Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual.
Objek filsafat adalah yang ada dan mungkin ada,
semua yang engkau pikirkan apapun itu adalah sebuah wadah, wadah apapun yang
ada dan meliputi yang mungkin ada,
ternyata dia juga merupakan isi dan Isi itu
itu juga wadah, kenapa seperti
itu karena metafisik. Hidup manusia itu
metafisik. Metafisik itu apa? Metafisik
itu sifat di balik sifat, sifat
mendahului sifat, sifat mengikuti sifat, sifat mempunya sifat.Jadi Setelah yang
ada itu masih ada yang ada lagi terus begitu seterusnya. Maju tidak selesai
mundur tidak selesai kenapa? karena manusia tidak sempurna. Kenapa manusia
tidak sempurna agar manusia bisa hidup sebab jika manusia itu sempurna maka
manusia tidak akan bisa hidup. misal kita diberi kesempurnaan mendengar,
mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa
hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja,
bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya
Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Jadi kesempurnaan
manusia itu sebenarnya tidak sempurna atau bisa dikatakan manusia itu sempurna
didalam ketidak sempurnaan dan tidak sempurna di dalam kesempurnaan
Law
Of The Three Stages Positivisme Menurut A. Compte (1798-1857) adalah Spiritualism
(theological Stage), Philosophy (Methaphysical Stage dan Modern (Positive
Stage)
Tahap
Perkembangan dunia diawali dengan priode Archaic, Tribal , Traditional ,Feodal,
Modern, Pos Modern dan Sekarng ini yang disebut dengan Power Now (Contemporary)
Awal
kehidupan manusia itu fatal dan fital.
Fatal itu terpilih , terpilih itu takdir. Saya akan memilih dua benda warna
putih dan hitam saya mengambil yang warna putih. Yang telah terambil itu adalah
takdir. Kenapa takdir karena sudah terjadi. Fital itu memilih, memilih itu ikhtiar. Hilang
fitalnya tidak ada kehidupan hilang fitalnya tidak ada kehidupan. Urusan
akhirat fatal, urusan dunia fital, ternyata susah untuk mendefinikan hidup,
bahwa sebenar-benarnya hidup adalah interaksi dinamik antara fatal dan fital.
Berikhtiarlah seakan-akan masih hidup seribu tahun lagi, berdoalah seakan-akan
besok mau mati, itu sudah kodratnya berinteraksi seperti itu, sifat yang ada
dan mungkin ada, kalau ada yang bersifat tunggal itu disebut monoisme disingkat
monisme. Monisme itu urusan langit.
Semua
yang engkau pikirkan apapun itu adalah
sebuah wadah, wadah apapun yang ada dan meliputi yang mungkin ada, ternyata dia juga merupakan isi
dan Isi itu itu juga wadah. Sebagaimana
dikemukakan oleh Immanuel Kant, isi bisa
sekaligus menjadi wadah, tapi isi tidak sama dengan wadahnya. Contohnya tadi
rambutnya berwarna hitam, itu yang disebut sebagai kontradiksi dalam filsafat ,
hidup itu penuh dengan kontradiksi. Prinsip yang kedua adalah prinsip
identitas, A sama dengan A itu hanya terjadi didalam pikiran, karna pikiran
sudah terbebas dari ruang dan waktu, jadi selagi dia diucapkan maka A yang aku
ucapkan pertama dan A yang aku ucapkan kedua, A yang kurus dan A yang gemuk,
jadi dalam kehidupan tidak ada A sama dengan A, matematika yang kamu pelajari
itu hanya ada sebatas didalam pikiran semata. Padahal Dunia Anak adalah dunia
di luar pikiran. Oleh karena itu manusia selalu diwarnai dengan
kontradiksi-kontradiksi, saya bisa makan, minum dan bernapas itu semua karna
hasil kontradiksi antara oksigen dan darah merah. Dengan kontradiksi itulah
maka kita bisa hidup, maka manusia tidak bisa terhindar dari kontradiksi, yang
jadi persoalan sekarang adalah bagaimana cara kita mengidentifikasi kontradiksi
seperti apa, mana yang produktif dan mana yang kontraproduktif. Selanjutnya,
kedudukan kontradiksi itu ada dimana? Isi atau wadah bagian mana yang mengalami
kontradiksi ? semakin rendah posisi semakin dia ada didalam predikat semakin
tinggi dia mengalami kontradiksinya, semakin tinggi posisinya maka semakin
kecil kontradiksinya, paling tinggi dirangkum kedalam kekuasaan Tuhan yang
absolut dan tidak ada kontradiksi didalamnya. Tuhan tidak mengenal kontradiksi
yang mengenal kontradiksi hanyalah manusia. Manusia siapa? Bagi adikmu kamu
sama sekali tidak mempunyai kontradiksi sedangkan bagi dirimu adikmu itu penuh
dengan kontradiksi, karna dia adalah keseluruhan penggambaran dari
sifat-sifatmu, karna wadah memiliki banyak sifat dan adikmu itu adalah salah
satu isinya. Semilyar kali kamu belum bisa menjawab kontradiksi dari adikmu
itu. Orang jawa punya solusi, solusinya adalah “ngono yo ngono, neng ojo
ngono”, yang artinya “begitu ya begitu, tetapi jangan begitu”, yang satu wadah
dan yang satu isi. Minum ya minum (wadahnya) tetapi jangan sambil berdiri
(isinya).
Filsafat adalah kesadaran akan kedudukan dan implikasinya terhadap
ruang & waktu dan Menggunakan Bahasa analog (Rumah kita semua ada di
bahasa) dan Filsafat itu adalah dirimu
sendiri. ketikan aku berdoa, maka aku
adalah seorang
spiritualis, tetapi, begitu ada orang yang berbuat aniaya, saya
bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic,
pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut
sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf,
ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu
sendiri maka sah-sah saja jika orang
mengemukaan pendapatnya atau
berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya
adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat
kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual.
Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual.
Membangun pengetahuan Secara Filsafat itu dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin
ada. Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang
mungkin ada pula, maksudnya adalah bahwa sifat-sifat yang ada dan yang mungkin
ada itu jumlahnya banyak sekali; tidak cuma banyak tetapi berdimensi kirarkhis.
Setiap yang ada mempunyai sifat, artinya jika ditinjau dari struktur Bahasa,
maka yang ada itu berkedudukan sebagai Subjek atau Objek, sedang semua
sifat-sifatnya berkedudukan sebagai Objek atau secara khusus disebut Predikat.
Jadi di sini, Objek pun mempunyai Predikat, karena setiap Objek mempunyai
sifat. Menurut Immanuel Kant, seorang filsuf bangsa Prusia (abad 15), secara
pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka
di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip
Kontradiksi. Prinsip Identitas ialah keadaan tercapainya A=A, atau Aku = Aku,
atau I = I …dst. Ternyata, dikarenakan Filsafat itu adalah sensitif terhadap
Ruang dan Waktu, maka selama aku di Dunia, aku tidak pernah mengalami keadaan
Identitas. Keadaan Identitas hanyalah terjadi di dalam pikiran kita, atau kalau
kita mengandaikan atau kalau kita sudah sampai di akhirat. Di dunia ini memang
benar aku tidak dapat mencapai Identitas, karena sebagai contoh belum selesai
aku menunjuk diriku, maka dikarenakan ruang dan waktu, diriku yang tadi telah
berubah menjadi diriku yang sekarang.
Sifat
pengetahuan yang ada dalam pikiran
adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari
pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi. Dengan kontradiksi
lah bisa ada produk baru. Yang diatas jika ditarik kebelakang adalah selaras
dengn hal-hal yang ada dalam pikiran. Benda pikir itu tidak terhalang oleh
ruang dan waktu. Itulah dunia pikiran, bersifat ideal, tetap, menuju
kesempurnaan. Maka itu akan tersapu habis untuk semua tokoh filsafat yang
berchemistry dengan pikiran mulai dari yang bersifat tetap (Permenides),
rasionalisme (Descartes), Perfectionism, Formalisme, dll. Tapi itu adalah dunia
transenden, semakin keatas semakin bersifat transenden atau beyond (dunianya
para dewa). Engkau adalah transenden bagi adikmu, ketua adalah
transenden bagi anggotanya, dan subjek juga transenden bagi para
predikat-predikatnya. Maka transenden adalah sifatnya para dewa, dan
pengalaman/kenyataan adalah dunianya para daksa. Tapi di dalam kehidupan
sehari-hari, kita menjumpai, uniknya, hebatnya, dan bersyukurnya dunia
pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa serta berinteraksi dengan anak
kecil.Anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia
pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Tapi untuk
anak kecil, pameran seni tidak hanya untuk dipandang tapi harus bisa
dipegang/disentuh karena itu adalah dunia anak. Hakekat ilmu bagi anak adalah
aktifitas/kegiatan. Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa
seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya. Ada= potensi
mengada= ikhtiar pengada= produk. Dunia mengalami dilema (anomaly) karena kekuatan
pikir itu adalah hebat, kekuatan pikir memproduksi resep/rumus untuk digunakan,
jika dinaikkan bisa menjadi postulat-postulat kehidupan. The power of
mind (Francis Bacon) bisa merekayasa pikiran bisa mengkonstruk konsep
sebagai resep kehidupan. Dan hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah peradaban.
Jadi peradaban adalah produk dari the power of mind.
Ada
2 (dua) macam terjadinya konsep. Pertama, konsep terjadi tidak dengan
permulaan/landasan; kedua, konsep terjadi dengan permulaan/landasan. Segala
macam bentuk permulaan/landasan misalnya: janji, kesepakatan, konvensi, mou,
hasil rapat, ketetapan Menteri. jikalau
seseorang membangun konsep dengan menetapkan suatu awal atau suatu
landasan atau suatu pondamen, maka sadar atau tidak sadar, dia telah menjadi
pengikut filsafat Foundationalisme. Sebenar-benar manusia, hanyalah berusaha
menetapkan awalnya atau landasannya atau pondamennya; sebena-benar awal atau
awal absolut hanyalah milik Tuhan YME. Namun Ternyata kita memunyai ada banyak
sekali pengertian-pengertian yang memunyai sifat tidak memunyai
awal/landasan/pondamen. Kita yang menyadarinya hal tersebut kemudian
mengakuinya maka sadar atau tidak sadar kita termasuk ke dalam orang-orang yang
Anti-foundationalisme. Tokoh dari filsafat Anti-foundationalisme adalah
Brouwer; selanjutnya disebut juga sebagai aliran Intuitionisme.
Jika
objek pikir berada di dalam pikira kita, maka kita akan menemukan bahwa
dia antara lain bersifat: absolut, bersifat tetap, statis, bersifat, tunggal, bersifat, formal, bersifat
sempurna, bersifat ideal, bersifat abstrak, bersifat immanent, bersifat
transenden, bersifat reduksionisme, bersifat analitik, bersifat a priori,
bersifat rigor,bersifat apodiktik, bersifat konseptual, bersifat normatif,
bersifat spekulatif, bersifat hypothetical, bersifat imeginer, bersifat
rasional, bersifat logis-tak logis, bersifat aksiomatis, bersifat paralogis,
bersifat teleologis, bersifat murni, bersifat analog, bersifat deduksi,
bersifat dialektik, bersifat Identitas, tidak terikat oleh ruang, tidak terikat
oleh waktu. Kita dapat menemukan bahwa objek yang berada di luar pikiran
memunyai sifat-sifat: relatif, berubah atau tidak tetap, dinamis, plural atau
jamak, berfifat tidak sempurna, bersifat tidak ideal, bersifat nyata,
berkedudukan sebagai contoh, bersifat sintetik, bersifat a posteriori, bersifat
dinamik, diperoleh dari penginderaan, bersifat kontradiksi, bersifat empiris,
bersifat sensasi, berlaku hukum sebab-akibat, terikat oleh ruang, terikat oleh
waktu, bersifat kontingen, bersifat konkrit.
Membangun pengetahuan adalah separuh
pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran
anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar
benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Karena ini olah
pikir kita bisa praktik, praktiknya didalam laboratorium. Praktiknya filsafat,
misalnya dengan bertanya dan memikirkan bagaimana/apakah kita bisa hidup
dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Contohnya
dalam aplikasi halo dokter, dokter melayani keluhan pasienya Hanya dengan
mendengarkan keluhan pasien, ia bisa mendiagnosa penyakitnya dengan analisis
dari pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Dokter ini menggunakan metode
Analitik Apriori yaitu bisa memikirkan walaupun tidak melihat secara langsung
objeknya. Hanya dari pengetahuan yang sebelumnya sudah pernah ia dapatkan.
Sebaliknya seorang bapak yang ingin mengetahui calon menantunya, , ia harus
melihatnya dan berkenalan dengan dengan anak manantunya, maka bapak tersebut itu menggunakan metode Sintetik a posteriori
(kehidupan pengalaman).
Segala sesuatu itu berpasang-pasangan
dan selalu mencari jodohnya, setiap yang ada dan mungkin ada itu adalah tesis,
dan selain yang ada satu itu merupakan anti tesisnya, diriku merupakan tesis,
maka semua selain diriku merupakan anti tesisnya. Dalam agama semua ketetapan
yang telah diatur merupakan tesis sedangkan anti tesisnya merupakan ikhtiar.
Tesisnya takdir maka anti tesisnya fital, tesisnya fatal maka anti tesisnya
potensi, sehingga motivator itu mengembangkan potensi supaya manusia itu punya
potensi, dan sebenar-benarnya hidup adalah berkembang menjadi suatu potensi
dari ada menjadi pengada melalui mengada. Maka segala sesuatu yang berubah
diikhtiarkan semua keatas, disitulah duduk yang namanya keikhlasan.
Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu
sebelum engkau mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakn
pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi
pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linear (lurus tak berujung),
maka orang yang hanya mengandalkan pikiran saja, hidupnya linear seperti garis
lurus, tidak mengerti hidupnya akan berhenti sampai dimana, dan tidak bisa
kembali (merefleksikan hidup=bersyukur). Namun jika hidupnya dituntun oleh
spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan:
pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan),
dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup) Manfaat berfilsafat
kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.
Hidup
merupakan suatu interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Hidup itu
tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan. Didalam hidup manusia
memiliki objek filsafat yang ada dan mungkin ada. Yang ada berada didalam dan
diluar pikiran, yang bersifat tetap dan berubah, dan yang bersifat satu dan banyak.
Yang tetap dan satu berada didalam
pikiran, karena lebih sering terjadi didalam pikiran. Semua yang dipikirkan
merupakan suatu wadah dan memiliki isi. Isi dapat menjadi wadah, tetapi isi
selamanya tidak akan sama dengan wadahnya. Hidup manusia merupakan pilihan dan
hidup manusia dipenuhi dengan kontradiksi, itulah mengapa manusia dikatakan
tidak sempurna dan jika manusia sempurna maka ia tidak akan hidup didunia ini.
Begitu pentingnya filsafat untuk memahami semua hal tentang kehidupan ini,
semakin banyak engkau belajar berfilsafat maka semakin banyak engkau dapat
mengetahui tentang arti kehidupan.
“Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur
dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu
struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang
dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur
pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of
structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada
pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka
pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam
kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa
siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, ketegasan itu wadahnya
laki-laki, Wadah itu ada dimana-mana,
yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa
isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat
menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia
adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada
dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur
dunia.
# Marsigit
@Marsigit
#MarsigitSTATISTIK
https://swanstatistics.com/cara-uji-kruskal-wallis-statistik-non-parametrik-dengan-spss/
https://www.statistikian.com/2014/03/interprestasi-analisis-cluster-hirarki-dengan-spss.html
DATA PISA
http://www.oecd.org/pisa/data/
https://www.oecd.org/pisa/data/2018database/
http://litbang.kemdikbud.go.id/pisa
KEMENAG
https://ospl.kemenag.go.id/
https://www.rumahfiqih.com/radio/radio.php
https://www.rumahfiqih.com/radio/kk_.php?id=18858
http://waqfeya.net/
Buku
http://situsbukukuliah.blogspot.com/search/label/Pendidikan
https://www.perpusnas.go.id/
https://id.booksc.org/
https://www.alkhoirot.com/download-kitab-kuning/
https://drive.google.com/open?id=1kUKinqkNzmYu0vhJNbyuA5ctuHTOSiCR
https://www.facebook.com/groups/dosen.muda.indonesia/permalink/2152239311544676/?sfnsn=scwspmo
https://drive.google.com/open?id=1kUKinqkNzmYu0vhJNbyuA5ctuHTOSiCR
https://kitabpdf.warisansalaf.com/download/kitab-tafsir-ruhul-maani-fi-tafsiril-quranil-karim-was-sabil-matsani-al-aluusi/
TUGAS AKHIR PROPOSAL FILSAFAT PENELITIAN & EVALUASI PENDIDIKAN
TUGAS AKHIR PROPOSAL FILSAFAT PENELITIAN & EVALUASI PENDIDIKAN
TUGAS AKHIR MATA KULIAH
FILSAFAT PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
Dosen Pengampu Mata Kuliah :Prof. Dr. Marsigit, MA
RANCANGAN PROPOSAL DISERTASI
1. Judul
PENGEMBAGAN ASSESSMENT PORTOFOLIO PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA
2. Latarbelakang Masalah
Undang-Undang No 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang tujuanya untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003:5).
Fungsi pendidikan nasional Indonesia tersebut sesungguhnya berpijak pada landasan ideologi Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia, yang menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, yang menunjukkan bahwa sila ketuhanan ini harus melandasi dan menjiwai seluruh sila-sila lainnya. Ini berarti bahwa seluruh gerak kehidupan bangsa Indonesia dan seluruh aspek kegiatan dalam segala bidangnya harus dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan. Atas dasar itulah, sudah seharusnya nilai-nilai keagamaan itu senantiasa ditransfer dan diinternalisasikan pada setiap warga negara secara sungguh-sungguh melalui pendidikan, agar terwujud warga negara yang berwatak atau berkepribadian yang kaffah (utuh/paripurna), yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan memiliki rasa tanggung jawab.
Proses internalisasi nilai-nilai keagamaan dapat dilakukan sekurang-kurangnya melalui implementasi mata pelajaran agama dan budi pekerti pada semua jenjang pendidikan.. Keberadaan Pendidikan Agama lslam di sekolah Umum pada semua jenjang mengalami proses perkembangan yang relatif panjang, mulai dari kedudukannya sebagai pelajaran pilihan (lokal), kemudian menjadi mata pelajaran pilihan (berlaku secara nasional), dan akhimya menjadi mata pelajaran wajib untuk semua jenjang pendidikan dan berlaku secara nasional. Penguatan institusi PAI di sekolah umum terus mengalami perkembangan dan mendapat momentumnya dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kedudukan PAl di sekolah umum sebagai mata pelajaran merupakan bagian integral dari pendidikan nasional di samping berfungsi sebagai pengajaran agama Islam (transfer of knowledge), sosialisasi dan intemalisasi nilai nilai agama Islam juga rekonstruksi nilai-nilai baru. Tujuan akhir PAI adalah terbentuknya peserta didik yang berkepribadian muslim yang memiliki kemampuan, kognitif, afektif, dan psikomotor.
Karena itu, secara sosiologis PAI memiliki andil yang sangat besar bagi proses pembangunan karakter (character building). Bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, PAl merupakan benteng moralitas bangsa dan pembimbing hidup peserta didik serta meningkatkan mutu danmartabat hidupnya. Karena itu, jika PAl di sekolah umum merupakan bagian integral dari sistem pendidikan Nasional, berarti tidak kurang dari 75 % (35 juta) peserta didik di seluruh Indonesia secara terprogram dan teratur mempelajari agama Islam untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika PAl di dilaksanakan secara efektif, maka tujuan pendidikan yang diamanatkan UU Sisdiknas, yaitu terbentuknya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab niscaya akan tercapai.
Namun pada kenyataanya Pembelajaran PAI secara umum belum dapat menghasilkan lulusan (outcome) seperti yang diharapkan. Hal itu mengindikasikan adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan (tujuan dan hasil) atau dengan kata lain adanya kesenjangan antara gnosis dengan praxis. PAI selama ini telah menghasilkan lulusan yang secara kognitif relatif baik Namun Dalam kenyataannya terdapat indikasi bahwa hasil PAI dalam aspek kognitif tidak selalu paralel dengan pengamalan ajaran dan nilai nilai agama Islam. Kesenjangan itu menunjukkan bahwa PAI di Sekolah belum efektif mengintegrasikan pengetahuan keagamaan siswa dengan pengamalannya, bahkan berbagai fenomena dekadensi moral yang terjadi dalam kehidupan remaja dan pelajar akhir-akhir ini seringkali dijadikan sebagai barometer penilaian akan kekurangan pendidikan agama di sekolah.
Oleh karena itu, untuk dapat melihat tingkat pencapaian tujuan Pendidikan secara menyeluruh perlu dikembangkan alat ukur yang mampu memotret secara komprehensif kemampuan dan keterampilan peserta didik baik secara kognitif afektif maupun Psikomotorik .Di sinilah letak pentingnya peran asesmen pembelajaran karena dengan asesmen dapat menentukan umpan balik yang konstruktif bijaksana yang merupakan salah satu penentu dari proses pembelajaran yang efektif (Subramanian & et.al., 2012). Perbaikan kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas proses pembelajaran dan kualitas sistem asesmennya (Mardapi, 2012: 4). Asesmen merupakan komponen yang penting dalam pembelajaran (Russell & Airasian, 2012: 2), karena asesmen memiliki pengaruh yang kuat dalam meningkatkan proses pembelajaran (Raymond, et al., 2012; Bers, 2008), bahkan penggunaan prosedur asesmen yang benar dapat memberikan kontribusi langsung kepada peningkatan belajar peserta didik (Miller, et al., 2009: 34). Oleh karena itu, guru harus mampu mengembangkan alat asesmen yang baik yang mampu memotret secara tepat kompetensi yang telah dicapai peserta didik.
Salah satu instrument yang penting dalam mengembangkan ketrampilan dan sikap peserta didik adalah portofolio. Sebagaimna Pada Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Permendikbud (2013) bahwa penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya pada sikap/perilaku dan keterampilan.
Portofolio sebagai penilaian menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2004) adalah kumpulan hasil karya seorang peserta didik sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja yang ditentukan oleh guru atau peserta didik bersama guru, sebagai bagian dari usaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang ditentukan dalam kurikulum. Jadi portofolio merupakan kumpulan dari karya peserta didik yang dikumpulkan berdasarkan tugas yang diberikan oleh guru di dalam pembelajaran dan dikumpulkan dalam kurun waktu tertentu, dalam hal ini penilaian berfokus kepada keterampilan dan sikap. Setelah kumpulan karya peserta didik dan bukti kegiatan dalam proses pembelajaran terkumpul, kemudian dinilai dengan menggunakan rubrik. Rubrik berkedudukan sebagai pedoman penilaian, mengingat penilaian yang dilakukan bersifat subyektif, sehingga menjadi perlu untuk dibuat sebuah pedoman dalam pengambilan keputusan agar di dalam penilaian dilakukan secara lebih transparan dan bisa dipertanggungjawabkan serta mempunyai acuan-acuan yang jelas.
Namun dalam prakteknya dilapangan ada beberapa masalah terkait dengan penggunaan penilaian portofolio. Masalah tersebut antara lain adalah adanya anggapan guru yang merasa penilaian portofolio belum cocok dengan pembelajaran sehingga belum menggunakannya, dan untuk guru yang sudah menggunkan, ada yang masih mencari format yang pas dan sesuai untuk melakukan penilaian portofolio. Berangkat dari masalah tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengembangan Assessment Portofolio pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA.
3. Rumusan Masalah
a. Bagaimanakah Pengembangan Assessmen Portofolio pada mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di tinjau dari cakupan isi dan kepraktisan serta manfaatnya ?
b. Apakah Assessment Portofolio sudah efektif mengukur ketrampilan dan sikap peserta didik?
- Metodologi Penelitian
a. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan (Research & Development). Adapun model yang digunakan adalah model pengembangan dari Plomp yang dikombinasikan dengan model Borg & Gall. Pengertian kombinasi dalam hal ini adalah langkah-langkah penelitian dan pengembangan menggunakan acuan pokok dari Plomp, sedangkan penentuan jumlah subjek ujicoba menggunakan acuan dari Borg & Gall, yaitu jumlah subjek ujicoba dari yang pertama, kedua dan seterusnya semakin meningkat Pengembangan model Pembelajaran PAI menempuh langkah-langkah: 1) analisis teori dan hasil penelitian sebelumnya, 2) penyusunan desain dan perangkat model yang didasarkan pada hasil analisis beragam teori model dan hasil-hasil penelitian sebelumnya, 2) validasi pakar (expert judgement), yang dilakukan dengan menggunakan model focus group dicussion (FGD) dan delphi, 3) uji coba produk, 4) analisis data, dan 5) uji implementasi. Pakar atau ahli yang telibat dalam kegiatan FGD terdiri dari 4 orang dosen PPs S3 dengan bidang keahlian masing-masing: pendidikan PAI, pendidikan nilai, metodologi penelitian, dan pengukuran, 9 orang guru PAI SMA dan 3 orang kepala/wakil kepala SMA.
b. Ujicoba produk
Aspek yang divalidasi dalam tahap uji model ini meliputi uji model dan aplikasi model Assessment portofolio pada Pembelajaran PAI, Ujicoba model dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: uji coba tahap pertama, tahap kedua dan tahap ketiga sebagai uji implementasi. Subjek ujicoba yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari siswa SMA, guru PAI, serta Kepala Sekolah maupun Wakil Kepala Sekolah sebagai representasi dari pimpinan sekolah dan mahasiswa PEP S3.
c. Pengumpulan Dan Analisis Data
Pengumpulan data menggunakan inventory dan rating scale Instrumen pengumpulan data dianalis dengan CFA (Confirmatory Factor Analysis), model dianalisis secara deskriptif berdasarkan penilaian guru PAI dan pimpinan sekolah serta dengan SEM (Structural Equation Modeling) untuk membuktikan asumsi model PAI. Untuk menguji kecocokan antara model Assessment portofolio secara teoritis dengan data empiris, baik model pengukuran maupun model assessment didasarkan pada empat indikator, yaitu: 1) Chi-Square 2) ρ-value; 3) RMSEA; dan 4) GFI. Pada analisis deskriptif, data kuantitatif yang diperoleh melalui instrumen penilaian dicari skor reratanya kemudian dikonversikan ke data kualitatif dengan skala 5, dan akhirnya dideskripsikan. Hasil deskripsi tersebut dijadikan sebagai dasar untuk menentukan Assessment portofolio yang dikembangkan beserta panduan dan perangkatnya. Konversi data kuantitatif ke data kualitatif dengan skala 5 menggunakan aturan yang merupakan modifikasi dari aturan yang dikembangkan oleh Sudijono (2003: 329 – 339). Aturan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut di bawah ini.
Tabel . Standar Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif
Rerata Skor
|
Klasifikasi
|
Kesimpulan
|
> 4,2
|
Sangat Baik
|
Dapat dijadikan contoh
|
> 3,4 – 4,2
|
Baik
|
Dapat digunakan tanpa perbaikan
|
> 2,6 – 3,4
|
Cukup
|
Dapat digunakan dengan sedikit perbaikan
|
> 1,8 – 2,6
|
Kurang
|
Dapat digunakan dengan banyak perbaikan
|
≤ 1,8
|
Sangat Kurang
|
Belum dapat digunakan
|
REFERENSI
Depdikbud. (2013). Kerangka dasar dan struktur kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta: Depdikbud.
Depdikbud. (2014). Pedoman penilaian hasil belajar oleh pendidik. Lampiran Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdikbud
Mardapi, D. (2012). Pengukuran penilaian dan evaluasi pendidikan. Yogyakarta: Nuha Medika
Raymond, J. E., Homer, C. S., Smith, R., & Gray, J. E. (2012). Learning through authentic assessment: An evaluation of new development in the undergraduate midwifery curriculum. Nurse Education in Practice, 13(5), 471-476
Russell, M. K., & Airasian, P. W. (2012). Classroom assessment: concepts and applications (7th edition). New York: McGraw-Hill.
Russell, M. K., & Airasian, P. W. (2012). Classroom assessment: concepts and applications (7th edition). New York: McGraw-Hill.
Subramanian, J.,& et.al. (2012). Improving the quality of educational strategies in postgraduate dental education using student ang graduate feedback: findings from a qualitative study in New Zealand. European Journal of Dental Education, 1-8.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
TUGAS AKHIR MATA KULIAH REVIEW PERKULIAHAN PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN Dosen Pengampu Mata Kuliah :Prof. Dr. M...
-
TUGAS AKHIR PROPOSAL FILSAFAT PENELITIAN & EVALUASI PENDIDIKAN TUGAS AKHIR MATA KULIAH FILSAFAT PENELITIAN DAN EVALUASI PEN...

